KISAH MAWAPRES FIP -GABRIEL-

Penulis: Setya Achsanul Arief/PTIK 2015/KADERISASI LI 2017

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Namanya ialah Gabriel. Ia adalah salah satu finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNJ yang berhasil menembus tingkat Universitas. Gabriel adalah mahasiswa program studi Bimbingan Konseling atau yang dikenal dengan BK Fakultas Ilmu Pendidikan. Di usianya yang masih tergolong muda ia mampu meraih prestasi yang membanggakan. Diantaranya ialah sebagai Finalis Mawapres Universitas Negeri Jakarta. Ketika Penulis menulis kisah ini, Penulis merasakan kekaguman dan kesalutan dari seorang Gabriel. Tidak banyak yang mengenalnya, namun Tuhan selalu mengenal dengan baik setiap hamba-hambaNya termasuk dengan mempertemukan penulis dengan Gabriel. Tuhan seakan tahu rencana yang terbaik bagi setiap hambaNya yang beriman dan bertakwa. Seakan sudah menjadi suratan takdir bahwa Gabriel dapat berjumpa dengan kami (tim Penulis) untuk dapat membukukan kisah istimewa ini. Gabriel bercerita pada mulanya ia adalah seorang mahasiswa biasa yang tidak pernah memiliki niat sedikitpun untuk berkompetisi di ajang Mawapres UNJ 2017. Namun ternyata Gabriel memiliki sebuah teman yang dari awal memang berniat untuk mengikuti seleksi Mawapres UNJ 2017. Akhirnya usut punya usut, setelah melalui proses pendaftaran dan pelengkapan berkas seleski Mawapres UNJ, akhirnya Gabriel berhasil lolos untuk mengikuti seleksi Mawapres tingkat prodi di BK. Lucunya adalah teman Gabriel yang mengajak untuk mengikuti Mawapres ternyata malah mengundurkan diri dan tidak jadi ikut seleksi. Rasanya seperti ditinggal sendirian di suasana yang tidak menyenangkan karena Gabriel harus berjuang di Mawapres karena namanya sudah terdafar. Suka tidak suka mau tidak mau semua hal itu harus dijalani oleh Gabriel. Akhirnya setelah berusaha dengan keras dan gigih akhrinya Gabriel berhasil lolos Mawapres tingkat prodi dan melanjutkan ke fakultas. Selama seleksi di prodi, Gabriel bercerita bahwa begitu banyak perjuangan yang telah dikorbankan, dimulai dari meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan dan sekolah mawapres, membagi tenaga untuk kuliah dan mawapes hingga menguras otak untuk berfikir. Hal tersebut merupakan momen-momen terberat yang sulit untuk dijalani bagi seorang Gabriel di masa itu, karena teman-teman seusianya di kala itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, bermain, berkumpul bersama dibanding harus dikarantina dalam sekolah mawapres yang sangat menyita waktu dan tenaga. Tapi Tuhan menunjukkan jalanNya bagi setiap hamba nya yang selalu terus berusaha. Terbayarlah segala jerih payah Gabriel dalam mengikuti seleksi mawapres tingkat prodi dengan terpilihnya dia untuk ikut ke tahap selanjutnya.
Hanya dengan segala keteguhan dalam menerima kesabaran dan yakin akan janji Tuhan bahwa Ia tidak akan pernah menyianyiakan hambaNya yang selalu berusaha. Tanpa disadari, teman-teman serta sahabat Gabriel pun ikut mendukungnya, hal ini diceritakan saat penulis mendengar langsung dari Gabriel ketika ia bercerita bahwa saat berjuang di mawapres, ia banyak didukung oleh sahabat-sahabatnya dan banyak pula dari sahabatnya yang menjadi tim sukses (Timses) Gabriel di Mawapres. Seperti tim pembuatan ppt, tim pembuatan video karya tulis, tim pembuatan vlog profil mawapres, tim publikasi dan dukungan medsos, dan sebagainya. Semuanya dikerjakan oleh sahabat-sahabat Gabriel yang secara suka rela untuk membantunya demi tercapai untuk lolos seleksi mawapres tingkat fakultas. Ketika di masa-masa karantina, Gabriel bercerita bahwa ia sempat pesimis karena saingan dari fakultas lain hebat-hebat, bahkan ada yang sangat fasih berbahasa inggris yang melebihi lazimnya bahasa Indonesia saat dikampus. Hal itulah yang membuat Gabriel sempat merasa minder dan tidak percaya diri untuk melanjutkan. Akan tetapi ia teringat akan pesan dan dukungan dari orang tuanya dan sahabat-sahabat nya untuk terus berjuang di mawapres hingga titik darah penghabisan. Saat di fakultas, penugasan yang diberikan ialah membuat sebuah karya tulis ilmiah. Namun Gabriel mengalami keterhambatan hingga menyebabkan ia harus mengganti judul karya tulis ilmiahnya karena tidak mendapat dukungan dari kakak tingkat mawapres tahun lalu dan dosen pembimbing. Akhirnya setelah berapa lama berhasillah ia untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah tersebut mesikpun harus mengganti judul. Tema yang diangkat oleh Gabriel di karya tulis ilmiahya ialah dengan membuat komik bang Gobil yang bertemakan keragaman budaya (multikultur) untuk kalangan tingkat SMP dan SMA yang mencuat ke dalam arah pilkada, politik, budaya hingga agama. Alhamdulillah atas izin Allah, ide tersebut berhasil meraih sebagai juara 1 Mawapres UNJ tingkat fakultas di FIP untuk melanjutkan ke tingkat universitas.
Begitu banyak pengalaman berharga yang didapat penulis dari seorang Gabriel. Beliau selalu menceritakan bahwa Mawapres bukanlah untuk orang-orang yang hanya bisa dan mau, tetapi Mawapres adalah tempat bagi orang-orang yang ingin mengorbankan dirinya agar bermanfaat bagi orang lain. Di Mawapres lah Gabriel dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang belum pernah dilihat bahkan dikenal namanya. Dari hal tersebut beliau menyadari bahwa setiap diri kita bukanlah siapa-siapa, semakin kita menatap keluar, kita semakin tau bahwa kita bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya dibanding orang lain karena itu janganlah menjadi orang yang besar hati dan tetaplah merunduk seperti padi. Meskipun tidak berhasil menjadi juara di tingkat univ, namun Gabriel tidak pernah bersedih dan merasa menyesal, tetapi sebaliknya ia menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman yang berharga yang mampu untuk meningkatkan semangat hidupnya untuk terus berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.

“Butiran-butiran embun langIt jatuh bergururan, mengisi hati yang kekeringan, diterbangkan angin dihempas hujan. Menetap di tanah hati yang bersemayam dalam cahaya qalbu, terjaga bersama indahnya kehidupan dalam canda sedih duka lara. Bergerak bersendandung dalam irama kehidupan dunia, bahagia bersama dalam tetes-tetes air mata, bersedih bersama senyum yang menghias warna warni kehidupan di bumi mengiringi salam bahagia penuh cinta, semoga Allah selalu menjaga kita. Dalam tiap lantunan doa yang selalu menggema di angkasa, turun dalam tetes rintik-rintik kerinduan cahaya yang selalu terjaga dalam menemani kisah hidup di dunia”
[Batas Batas Kehidupan – Setya Achsanul Arief]

Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.

Namanya ialah Gabriel. Ia adalah salah satu finalis Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNJ yang berhasil menembus tingkat Universitas. Gabriel adalah mahasiswa program studi Bimbingan Konseling atau yang dikenal dengan BK Fakultas Ilmu Pendidikan. Di usianya yang masih tergolong muda ia mampu meraih prestasi yang membanggakan. Diantaranya ialah sebagai Finalis Mawapres Universitas Negeri Jakarta. Ketika Penulis menulis kisah ini, Penulis merasakan kekaguman dan kesalutan dari seorang Gabriel. Tidak banyak yang mengenalnya, namun Tuhan selalu mengenal dengan baik setiap hamba-hambaNya termasuk dengan mempertemukan penulis dengan Gabriel. Tuhan seakan tahu rencana yang terbaik bagi setiap hambaNya yang beriman dan bertakwa. Seakan sudah menjadi suratan takdir bahwa Gabriel dapat berjumpa dengan kami (tim Penulis) untuk dapat membukukan kisah istimewa ini. Gabriel bercerita pada mulanya ia adalah seorang mahasiswa biasa yang tidak pernah memiliki niat sedikitpun untuk berkompetisi di ajang Mawapres UNJ 2017. Namun ternyata Gabriel memiliki sebuah teman yang dari awal memang berniat untuk mengikuti seleksi Mawapres UNJ 2017. Akhirnya usut punya usut, setelah melalui proses pendaftaran dan pelengkapan berkas seleski Mawapres UNJ, akhirnya Gabriel berhasil lolos untuk mengikuti seleksi Mawapres tingkat prodi di BK. Lucunya adalah teman Gabriel yang mengajak untuk mengikuti Mawapres ternyata malah mengundurkan diri dan tidak jadi ikut seleksi. Rasanya seperti ditinggal sendirian di suasana yang tidak menyenangkan karena Gabriel harus berjuang di Mawapres karena namanya sudah terdafar. Suka tidak suka mau tidak mau semua hal itu harus dijalani oleh Gabriel. Akhirnya setelah berusaha dengan keras dan gigih akhrinya Gabriel berhasil lolos Mawapres tingkat prodi dan melanjutkan ke fakultas. Selama seleksi di prodi, Gabriel bercerita bahwa begitu banyak perjuangan yang telah dikorbankan, dimulai dari meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan dan sekolah mawapres, membagi tenaga untuk kuliah dan mawapes hingga menguras otak untuk berfikir. Hal tersebut merupakan momen-momen terberat yang sulit untuk dijalani bagi seorang Gabriel di masa itu, karena teman-teman seusianya di kala itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, bermain, berkumpul bersama dibanding harus dikarantina dalam sekolah mawapres yang sangat menyita waktu dan tenaga. Tapi Tuhan menunjukkan jalanNya bagi setiap hamba nya yang selalu terus berusaha. Terbayarlah segala jerih payah Gabriel dalam mengikuti seleksi mawapres tingkat prodi dengan terpilihnya dia untuk ikut ke tahap selanjutnya.
Hanya dengan segala keteguhan dalam menerima kesabaran dan yakin akan janji Tuhan bahwa Ia tidak akan pernah menyianyiakan hambaNya yang selalu berusaha. Tanpa disadari, teman-teman serta sahabat Gabriel pun ikut mendukungnya, hal ini diceritakan saat penulis mendengar langsung dari Gabriel ketika ia bercerita bahwa saat berjuang di mawapres, ia banyak didukung oleh sahabat-sahabatnya dan banyak pula dari sahabatnya yang menjadi tim sukses (Timses) Gabriel di Mawapres. Seperti tim pembuatan ppt, tim pembuatan video karya tulis, tim pembuatan vlog profil mawapres, tim publikasi dan dukungan medsos, dan sebagainya. Semuanya dikerjakan oleh sahabat-sahabat Gabriel yang secara suka rela untuk membantunya demi tercapai untuk lolos seleksi mawapres tingkat fakultas. Ketika di masa-masa karantina, Gabriel bercerita bahwa ia sempat pesimis karena saingan dari fakultas lain hebat-hebat, bahkan ada yang sangat fasih berbahasa inggris yang melebihi lazimnya bahasa Indonesia saat dikampus. Hal itulah yang membuat Gabriel sempat merasa minder dan tidak percaya diri untuk melanjutkan. Akan tetapi ia teringat akan pesan dan dukungan dari orang tuanya dan sahabat-sahabat nya untuk terus berjuang di mawapres hingga titik darah penghabisan. Saat di fakultas, penugasan yang diberikan ialah membuat sebuah karya tulis ilmiah. Namun Gabriel mengalami keterhambatan hingga menyebabkan ia harus mengganti judul karya tulis ilmiahnya karena tidak mendapat dukungan dari kakak tingkat mawapres tahun lalu dan dosen pembimbing. Akhirnya setelah berapa lama berhasillah ia untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah tersebut mesikpun harus mengganti judul. Tema yang diangkat oleh Gabriel di karya tulis ilmiahya ialah dengan membuat komik bang Gobil yang bertemakan keragaman budaya (multikultur) untuk kalangan tingkat SMP dan SMA yang mencuat ke dalam arah pilkada, politik, budaya hingga agama. Alhamdulillah atas izin Allah, ide tersebut berhasil meraih sebagai juara 1 Mawapres UNJ tingkat fakultas di FIP untuk melanjutkan ke tingkat universitas.
Begitu banyak pengalaman berharga yang didapat penulis dari seorang Gabriel. Beliau selalu menceritakan bahwa Mawapres bukanlah untuk orang-orang yang hanya bisa dan mau, tetapi Mawapres adalah tempat bagi orang-orang yang ingin mengorbankan dirinya agar bermanfaat bagi orang lain. Di Mawapres lah Gabriel dapat bertemu dengan orang-orang hebat yang belum pernah dilihat bahkan dikenal namanya. Dari hal tersebut beliau menyadari bahwa setiap diri kita bukanlah siapa-siapa, semakin kita menatap keluar, kita semakin tau bahwa kita bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya dibanding orang lain karena itu janganlah menjadi orang yang besar hati dan tetaplah merunduk seperti padi. Meskipun tidak berhasil menjadi juara di tingkat univ, namun Gabriel tidak pernah bersedih dan merasa menyesal, tetapi sebaliknya ia menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman yang berharga yang mampu untuk meningkatkan semangat hidupnya untuk terus berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.

“Butiran-butiran embun langIt jatuh bergururan, mengisi hati yang kekeringan, diterbangkan angin dihempas hujan. Menetap di tanah hati yang bersemayam dalam cahaya qalbu, terjaga bersama indahnya kehidupan dalam canda sedih duka lara. Bergerak bersendandung dalam irama kehidupan dunia, bahagia bersama dalam tetes-tetes air mata, bersedih bersama senyum yang menghias warna warni kehidupan di bumi mengiringi salam bahagia penuh cinta, semoga Allah selalu menjaga kita. Dalam tiap lantunan doa yang selalu menggema di angkasa, turun dalam tetes rintik-rintik kerinduan cahaya yang selalu terjaga dalam menemani kisah hidup di dunia”
[Batas Batas Kehidupan – Setya Achsanul Arief]

Komentar